Wonwoo dan Kisah Ayam Penyetnya
Jadi begini, menurut Afri, Jeon Wonwoo itu menyebalkan. Afri sebal harus dipanggil dengan sebutan Blair setiap laki-laki bermata kucing itu bertemu dengannya. Lalu dia akan melangkah mendekat, mencubit pipinya, dan terakhir menggandeng tangannya. Tidak hanya menggandeng, ia bahkan menautkan jari jemarinya sampai membuat Afri bergidik ngeri.
Keringat dingin, jantung ingin loncat, dan mati di tempat. Senyum manisnya itu selalu menutup niat terakhir. Mati di tempat. Kalau ia mati nanti siapa yang akan Wonwoo gandeng? Perempuan lain? Tidak sudi!
Jeon Wonwoo si anak teknik industri yang entah kenapa bisa menaruh hatinya pada anak komunikasi bernama Afri. Kata Wonwoo, Blair itu unik dan menggemaskan. Ohiya Wonwoo selalu menyebutnya Blair karena itu keren.
Blair di mata Wonwoo beda dengan Afri di mata Wonwoo.
Blair itu seperti kesayangan Wonwoo yang tidak boleh dilepaskan. Kalau Afri itu milik Wonwoo yang tidak boleh hilang. Begitu kata laki-laki bernama Jeon Wonwoo.
"Blair, aku mau ayam penyet."
"Lama-lama kamu yang aku penyet!"
"Loh?"
"Apa?"
"Enggak."
"Singkat amat si."
"Kenapa? Mau aku cerewet?"
"Jangan nanti banyak yang denger."
"Lucu banget sih!"
Kemudian Wonwoo lagi-lagi mendaratkan tangannya di pipi Afri. Gadis itu meringis sebelum memukul pundak Wonwoo sedikit keras.
"Blair itu kaya nama cowok! Kamu gak bisa berhenti nyebut aku dengan sebutan Blair gitu?"
"Enggak. Emang mau apa? Sayang?"
"Sayang sayang palalu peyang!"
Wonwoo tertawa mendengar penuturan Afri. Gadis itu masih misuh-misuh berjalan mendahului Wonwoo. Sayangnya, tautan jari mereka tidak bisa membuat Afri pergi menjauh dari Wonwoo.
Laki-laki itu malah menarik Afri masuk ke dalam balutan jaket dongker yang ia pakai. Senyum yang membuat matanya menjadi segaris manis itu tentunya membuat jantung Afri berdetak dua puluh kali lebih cepat.
"Menurut buku yang aku baca, jantung orang berdetak cepat kalau lagi capek. Kamu capek?"
"Enggak! Lepasin ih!"
Wonwoo menggeleng. Biar kuperjelas. Mereka berpelukan di tengah koridor kampus.
"Kamu capek temenan sama aku?"
Afri diam. Dia bukannya capek tahu! Dia sedang berkompromi dengan hati dan suaranya agar tidak berteriak girang.
"Aku capek temenan sama kamu, Blair. Kita udahan aja ya? Kamu gak usah anggep aku temen lagi."
Jantungnya hampir mencelos kalau Wonwoo tidak mempererat pelukannya. Afri ingin menangis. Afri benci Wonwoo. Kenapa laki-laki itu berbicara seenaknya?
Terlebih, kenapa dia harus mengatakan ini sambil memeluknya?
"Kalau capek kenapa masih peluk aku? Mau bikin aku malu setelah ninggalin gitu aja? Temen macam apa kamu? Oh iya, kamu bukan temenku lagi."
Afri berusaha terdengar tajam untuk Wonwoo. Gadis itu mengatur kembali deru napas dan detak jantungnya yang tidak bisa bekerjasama baik dengan otaknya. Afri ingin membenci teman seperti Wonwoo yang dingin, kaku, dan menyebalkan!
Namun detik setelahnya Wonwoo malah tertawa puas sambil mengeratkan lagi pelukannya.
"Kamu lucu! Aku suka! Aku capek temenan sama kamu. Aku maunya pacaran sama kamu."
"Blair? Ko mati? Blair ngomong dong."
"Blair?"
"Berisik. Aku malu."
"Oke sayang. Makan ayam penyet aja yuk."
Dan pada akhirnya Wonwoo selalu ada di sisi Afri. Biarpun menyebalkan, tapi Wonwoo selalu membayar nasi ayam penyet yang Afri pesan. Kebahagiaan hakiki yang Afri punya adalah ayam penyet gratis dan cinta Wonwoo. Bonusnya Afri jadi kekasih Jeon Wonwoo yang digandrungi banyak perempuan di kampusnya.
Cinta Afri bukan bersemi di putih abu-abu walaupun mereka sudah mengenal sejak masa putih abu-abu. Cinta Afri bersemi di ayam penyet hasil kocekan dompet Wonwoo yang tebel sama struk belanja ayam penyet.
***
Ku mencoba tidak nista. Ini tidak nista tapi hanya ada ayam penyet nyempil. Btw ku tak bisa dedicated story ke ka bler karena kubuka lewat hp
Bạn đang đọc truyện trên: TruyenTop.Vip