Chapter 4
Setelah makan malam semua orang pergi ke kamar tidur masing-masing. Begitu pun dengan Ye Dingzhi yang tidur sekamar dengan Dongjun.
Awalnya dia ingin sekamar dengan Li Lun. Tapi pemuda itu mengatakan untuk tidur dengan Dongjun saja sekaligus membahas masalah mereka berdua.
Jujur saja Ye Dingzhi tidak terlalu tahu masalah nya dengan Dongjun. Tapi dirinya merasa jika itu bukanlah masalah sederhana.
Dongjun saat ini sedang duduk di tepi tempat tidur. Sambi memperhatikan Ye Dingzhi yang menggerai rambut panjangnya.
Dirinya sudah bersiap untuk tidur. Tapi Dongjun masih memiliki banyak pertanyaan di kepalanya.
Puk.
Mendapatkan tepukan lembut di kepalanya. Membuat Dongjun spontan mendongak dan mendapati Ye Dingzhi menatapnya dengan lembut.
Ye Dingzhi tersenyum tipis saat melihat kebingungan di mata Dongjun. Dirinya kemudian ikut duduk di samping Dongjun hingga mereka berdua saling berhadapan.
" Ada apa Dongjun. Apakah ada sesuatu yang menggangu mu" tanya Ye Dingzhi.
Dongjun menatap wajah tampan Ye Dingzhi yang tanpa cela. Wajah yang dulu sering dirinya rindukan siang malam.
Orang yang memberikan luka padanya. Tapi juga memberikan cinta tiada terbatas untuk Dongjun.
Orang yang paling berharga dalam hidupnya. Selain kakak kembarnya yaitu Zhao Yuanzhou atau Zhu Yan.
Entah sejak kapan Ye Dingzhi menjadi pemilik tahta tertinggi dalam hatinya. Dongjun tidak mengetahui hal itu.
Dirinya awalnya berpikir bahwa hatinya adalah milik Yue Yao. Tapi ternyata saat melihat Ye Dingzhi terluka Dongjun kehilangan kendali dirinya sendiri.
" Yun ge kenapa kau menjauh dariku. Apakah kau membenciku " tanya Dongjun pelan.
Ye Dingzhi menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Dongjun.
" Dengar baik baik Baili Dongjun aku tidak pernah membenci mu. Dan tidak akan pernah membencimu karena aku sangat menyayangimu"
" Aku menjauh karena tidak ingin melibatkan mu dalam masalah ku. Aku tidak ingin kau terluka karena diriku Dongjun"
" Aku sudah kehilangan kedua orang tuaku. Aku hanya memiliki mu dan Li Lun sebagai tempat ku untuk pulang , aku tidak bisa kehilangan lagi" ucap Ye Dingzhi tegas sambil menatap mata indah Dongjun.
(Ow Yun ge aku meleleh 🤭🤭🤭).
Mata Dongjun berkaca-kaca setelah mendengar penjelasan Ye Dingzhi. Dirinya tidak mengira bahwa ia sangat berharga bagi Yun ge nya.
" Yun ge tidak pernah merepotkan ku. Aku juga sangat menyayangi Yun ge , jadi aku mohon jangan tinggalkan aku lagi " ucap Dongjun lirih sambil memeluk Ye Dingzhi.
" Aku juga tidak mau meninggalkan mu lagi Dongjun " balas Ye Dingzhi mengeratkan pelukannya.
Dibawah sinar bulan purnama dua insan saling melepas rindu. Yang sudah lama terpendam dalam kesepian yang menyertai.
( Oke tinggal kan pasangan ini 🤣🤣🤣)
Sedangkan di kamar lainnya yaitu kamar milik Li Lun. Pemuda itu masing Gulang guling karena tidak bisa menutup matanya .
Bukan karena belum mengantuk tapi dirinya takut jika tidur sendirian. Apalagi terdengar suara binatang yang saling bersahutan menambah kesan seram.
Niat hati ingin memberikan waktu bagi Ye Dingzhi dan Dongjun agar bisa berbicara leluasa.
Tapi sekarang Li Lun malah menyesal sendiri. Karena dirinya jadi takut berada di kamar ini sendirian.
" Huh kenapa tadi aku tidak setuju saja. Yun ge tidur disini" ucap Li Lun nelangsa.
Dirinya kemudian berbaring miring ingin segera memejamkan matanya. Tapi tiba-tiba terdengar suara gonggongan serigala yang membuat nya spontan bangun dari tempat tidur.
Tubuhnya gemetar ketakutan karena suara serigala yang terdengar sangat kencang. Dirinya rasanya ingin menangis karena takut.
" Kenapa suasananya jadi seram begini. Apakah nanti juga akan datang harimau , beruang , atau malah gajah" Li Lun bergidik sendiri dengan pemikiran nya .
( Buset dah dikira kebun binatang apa ya🤦🏼♀️🤦🏼♀️🤦🏼♀️🤣🤣🤣🤣).
Kwok'
Kwok'
Kwok'
Suara burung gagak yang melintas membuat Li Lun spontan turun dari tempat tidur. Dirinya sudah tidak perduli lagi jika dikatakan sebagai penakut karena nyatanya dirinya sangat takut saat ini.
Di saat yang sama Zhuo Yichen berniat untuk tidur. Setelah selesai memeriksa dokumen misi bagi biro pemburu siluman.
Brakkkk.
Baru saja ingin membaringkan tubuhnya. Dirinya terkejut ketika mendengar suara pintu kamarnya dibuka secara kasar.
Dirinya kemudian menoleh dengan kesal . Dan seketika melongo melihat Li Lun yang berada di depan kamarnya.
Dengan pakaian tidurnya yang cukup tipis hingga memperlihatkan kulit putih mulusnya. Yang membuat Yichen panas dingin sendiri.
Kwok'
Kwok'.
Kwok'.
Sebelum Yichen sempat bertanya Li Lun sudah melompat ke arahnya. Pemuda itu memeluk erat tubuhnya dengan tangan gemetaran.
Glek.
Yichen menelan ludah nya dengan susah payah. Karena Li Lun menempel erat pada dirinya hingga dadanya yang agak montok menempel pada lengannya.
( Sabar bang ini ujian 🤣🤣🤣🤣).
" Maaf tapi tolong jangan usir aku. Aku takut mendengar suara itu" cicit Li Lun mengeratkan pelukannya.
" Astaga itu hanya suara burung. Tidak ada apa apa" ucap Yichen.
Dirinya mencoba untuk melepaskan pelukan Li Lun. Tapi pemuda itu malah semakin mengeratkan pelukannya.
" Jangan lepaskan aku takut"
" Tenanglah ada aku tidak akan ada apa apa"
" Tidak mau . Pokoknya aku tidur dengan mu" ucap Li Lun lirih masih gemetaran.
Yichen mendesah frustasi dirinya jadi iba melihat Li Lun yang masih gemetaran. Akhirnya pemuda itu pasrah saja.
" Baiklah kalau begitu. Sekarang tidur lah aku tidak akan kemana mana " ucap Yichen menenangkan.
Li Lun mengangguk cepat dirinya kemudian. Melingkar kan tangannya di tubuh Yichen , kakinya bertumpu pada paha Yichen membuat pemuda itu seperti guling baginya.
Yichen menahan nafasnya saat merasakan badan Li Lun menempel pada tubuhnya. Dirinya berusaha menahan gejolak yang menggebu-gebu dalam dirinya.
"Li Lun"
" Jangan pergi"
" Li Lun kau terlalu erat memeluk ku. Aku tidak bisa bergerak , lepas dulu" ucap Yichen.
" Tidak mau nanti kau meninggalkan ku" balas Li Lun keras kepala.
Akhirnya Yichen hanya bisa pasrah dan mencoba untuk memejamkan matanya. Tapi seberapa keras pun dirinya mencoba dirinya tidak bisa tidur.
Sedangkan orang yang menjadikan nya guling sudah tertidur pulas. Karena Yichen mendengar jelas dengkuran halus nya karena kepala Li Lun bersandar di dadanya.
Yichen menelan ludah beberapa kali karena matanya. Melirik ke arah tubuh Li Lun yang terlihat jelas karena pakaiannya yang tipis.
Tanpa sadar tangannya mengusap lembut. Pinggang rampingnya hingga ke lengan nya , tapi dirinya buru buru sadar dan segera menarik tangan nya.
" Astaga cobaan apa lagi ini. Aku lebih memilih kau pukuli daripada Harus seperti ini" ucap Yichen miris.
Huh Yichen hanya mampu berdoa agar masih bisa bertahan sampai besok pagi . Apalagi dengan kondisi mengancam raga dan jiwa .
" Ayo Yichen semangat. Jangan biarkan hawa nafsu menguasai mu" ucap Yichen menyemangati diri sendiri sebelum memejamkan mata.
Tbc.
Hai para pembaca setia. Semoga tetap sehat dan dilindungi dimana pun berada ya.
Btw ini ceritanya ngebosenin nggak ya . Karena ada bumbu Komedi nya , maklum aku nggak suka yang terlalu berat.
See you again.
🙏🙏🙏🙏.
Bạn đang đọc truyện trên: TruyenTop.Vip