Gila

Dixon's POV

“DIXOOOOOON.”

Aku tersentak kaget saat suara Naomi menggelegar di telingaku. Membuatku menghela napas kasar seraya bangkit dari posisiku.

Naomi terlihat menyengir, di sebelahnya ada Rion yang telah berpakaian rapi.

“Jadi ikut?”

Aku mengerutkan dahi bingung.

“Sudah kuduga kau lupa. Akan ada acara kerajaan beberapa jam lagi.”

Aku menepuk jidatku saat teringat janji pada Savanna. “Oke, sebentar.”

Aku beranjak cepat dari atas sofa, berlari menuju kamar mandi dan langsung membilas diri. Tak sampai lima menit, aku keluar dari kamar mandi. Langsung memakai baju formal berwarna putih dengan baju kemeja berwarna hitam.

Tepat setelah aku membuka pintu kamar, aku melihat Savanna tengah bersedekap sembari bersandar pada dinding di belakangnya. Kedua mata hijaunya menatapku lekat-lekat seakan aku telah melakukan suatu kesalahan.

Aku menutup pintu di belakangku, berdiri tepat di hadapan gadis itu kemudian membalas tatapannya. Ia sangat memukau dengan gaun panjang semata kaki berwarna putih yang mengekspos bahu mulusnya, sepatu hak berwarna senada dengan kedua matanya serta riasan tipis di wajahnya.

Tindakan yang ia lakukan berikutnya membuatku terkejut—walaupun aku berhasil menutupinya rapat-rapat. Kedua tangan gadis itu melingkar di leherku, berkumpul di depan dada sembari berkutat dengan sebuah dasi.

“Kau akan bertemu pamanku.”

Aku mengangguk, tak merasa gugup sedikitpun.

“Kau akan terkejut saat tahu beliau siapa.”

Sekali lagi aku mengangguk bersamaan dengan tangannya yang menyentuh dadaku—atau lebih tepatnya dasi—dengan lembut dan cepat. Kemudian ia beralih dari hadapanku dan mulai berjalan menuju lantai atas.

Seperti biasanya, kami berjalan dalam diam. Tanpa sepatah kata yang terdengar dan hanya ada sebuah desiran aneh yang mengalir di dalam tubuhku.

Rion, Lanna dan Naomi menatap kami saat aku serta Savanna sudah berada di lantai atas. Membuat Rion menaikkan salah satu sudut bibirnya dan hendak mengejekku.

Namun Lanna menyikut rusuk Rion hingga ia meringis serta melupakan niat sialannya itu. Lanna pun kini menatap Sang Kakak menyesal. “Maaf soal tadi pagi.”

Savanna pun mengangguk. “Ya.”

“Jadi kita pergi sekarang?”

“Ya.”

“Bersama Rion, Naomi dan Dixon?”

“Ya, Lanna.”

“Berjalan kaki?”

Savanna pun berdecak. “Tentu, Lanna.”

“Siapa bilang kita berjalan kaki?” ujar Rion seraya menyeringai lebar. “Kalian tak dapat merasakan kehadiran beberapa kuda beserta keretanya yang berada tepat di depan rumah?”

Aku berdecak hebat, menepuk bahu temanku itu bangga kemudian melirik ketiga gadis di hadapanku bergantian. “Mari, Nona-Nona,” ujarku mempersilakan mereka untuk jalan terlebih dahulu menuju keluar rumah.

Di sana terdapat sebuah kereta kuda yang biasa membawa para bangsawan pergi. Dengan empat kuda berwarna hitam dengan rambut halus di atas kepalanya yang berwarna putih, seorang kusir tengah duduk di sebuah bangku yang berada tepat di belakang dua kuda terakhir.

Kereta kuda yang berbentuk persegi panjang berwarna putih ini tidak memiliki atap. Hanya separuh namun tetap dapat melindungi kami dari salju yang cukup lebat sore ini. Ukiran keemasan yang terukir di setiap sisi kereta membuat percikan cahaya terlihat tiap kali salju menyapunya, membuat kami semua diam-diam terpana dan menatapnya terus menerus.

Satu persatu dari kami naik ke atas kereta, duduk nyaris berhadap-hadapan dan Rion yang berada di sebelahku. “Bagaimana bisa kau mendapatkan kereta kuda ini?” tanya Lanna saat para kuda-kuda tersebut berjalan.

“Aku memiliki kenalan.”

“Siapa?” tanya Lanna lagi.

Mendadak Rion tertawa aneh sendiri. “Sudahlah, kalian pasti kenal jika aku mengatakannya.”

“Cha—“

“Sstt!” Dengan gerakan yang tak seperti biasanya Rion langsung menyambar bibir Savanna untuk menutupnya dengan telapak tangan. Menahan gadis itu untuk tidak berbicara. “Akan aku temani kau saat berburu nanti. Selama apapun itu. Tolong.”

Savanna menepis tangan Rion kasar, menampilkan kedua matanya yang tiba-tiba berwarna biru dengan kilatan api yang tak terlihat. Rion pun hanya menyengir, melirikku sekilas kemudian kembali bersandar pada punggung bangkunya.

“Jangan sentuh Savanna seperti itu lagi,” ujar Lanna mendadak dingin. “Itu hanya membawa kenangan buruk untuk Keisha.”

Dan cengiran di wajah Rion sirna dalam sekejap, kini ia menatap kakak adik itu menyesal. “Maaf, aku tidak tahu.”

Aku menatap Savanna setelahnya, mencoba melihat perubahan kedua mata birunya lagi yang perlahan-lahan berubah menjadi hijau tua. Ia membalas tatapanku, dan sebuah kilatan kesedihan cepat-cepat ia sembunyikan di balik sorot tajamnya.

“Apa kau lihat-lihat?” sinisnya seraya memelototiku.

Tanpa berpikir panjang, aku membiarkan sebuah kalimat terlontar begitu saja dari bibirku. “Entah kenapa aku sangat menyukai kedua matamu dan kedua mata Keisha.”

Savanna memutar kedua bola matanya malas.

“Aku tahu kesedihan itu berada di balik pelototan matamu. Keisha belum cukup siap untuk berpura-pura tegar sehingga kau melakukannya untuknya.” Lanjutku, kali ini dengan sebuah pertimbangan sejenak sebelum mengatakannya.

Tak ada yang berkomentar. Hanya kepulan udara putih yang keluar dari helaan napas kami. Savanna dan aku masih saling bertatapan, namun pikiranku hanya berkelana kepada banyak pertanyaan tentang gadis ini—bukan yang tidak-tidak.

Baru kali ini sejak berpuluh-puluh tahun berlalu aku merasa begitu tertarik kepada seorang gadis. Ingin mengetahui dirinya hingga keseluk-beluk dan membongkar seluruh rahasia yang selalu ia tutupi dari semua orang—termasuk saudaranya sendiri.

Persetan dengan gengsiku yang jatuh dengan tidak elitnya saat aku tahu ia adalah pasanganku. Seolah kini tujuan hidupku hanyalah untuk membahagiakannya dan tetap berada di sisinya sekalipun aku membencinya setengah mati.

“Aku juga akan membencimu, Dixon.” Aku tersenyum miring. “Cepat atau lambat.”

“Berhentilah menjadi orang yang penasaran, Sana.”

Gadis itu menegang. Seakan teringat ucapannya yang ia ucapkan padaku waktu itu dan tertangkap basah menjadi sosok yang penasaran karena terus menerus membaca pikiranku.

“Aku tidak membaca pikiranmu,” ujar Sana lagi.

“Kau baru saja melakukannya, sayang,” balasku yang lantas membuatnya mendengus dan langsung mengalihkan pandangannya dariku.

Aku hanya tertawa kecil, melipat kedua tangan di depan dada dan memperhatikan sekeliling kami yang telah tertutupi tumpukan salju. Kami melewati jalan yang tak pernah kulewati sebelumnya. Membuatku bertanya-tanya kemana kita akan pergi.

Hingga saat gerbang perbatasan terlihat, aku tahu bahwa kami akan menyebrangi lautan dan tidak pergi ke pulau sebelah—Xilvonia, pulau para Pegasus. Itu menandakan bahwa seseorang yang ingin bertemu kami adalah seorang werewolf.

Saat kuda-kuda itu mulai menghampiri lautan yang tak membeku, secara ajaib kereta kuda kami meraih-raih udara di hadapannya. Menanjak naik ke udara dan kami melintas lautan layaknya seorang santa dengan kereta saljunya.

Rion dan Naomi jelas terkagum-kagum, membuatku muak melihatnya karena mereka terlihat seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat balon.

Dari kejauhan, aku dapat melihat pepohonan hijau yang jarang kami lihat di Vamps menjulang tinggi dari tempatnya. Menampilkan cuaca yang—katanya—hangat dan panas hingga membuatmu berkeringat.

Burung-burung bermain di atas pohon tertinggi, saling berkicauan saat burung yang lainnya menandakan adanya sebuah makanan. Aku terus mengamati sebagian keindahan Ave yang baru kali ini kulihat secara langsung. Tidak hanya dalam sebuah coretan maupun lukisan leluhur kami.

“Clivora dan Maegovanen. Pulau para Penyihir dan Serigala. Di sana tidak ada salju dan jauh lebih nyaman dibandingkan Vamps, bagiku,” ujar Savanna tiba-tiba yang langsung membuat kami semua teralih kepadanya.

“Kita akan menuju Maegovanen.” Tambah Lanna seraya menatap jauh keujung pulau yang memiliki jutaan pepohonan rindang itu. “Apa pendapatmu tentang keindahan Ave ini, Naomi?”

“Aku tidak ingin berkomentar. Hanya saja— ini— sangat sulit untuk dilewatkan. Rasanya aku ingin mengabadikannya.”

Setelahnya mereka semua bercengkrama, menikmati keindahan Ave bersama-sama sementara aku hanya menikmati keindahan Savanna dalam diam— tunggu, maksudku, keindahan Ave.

“Oh tidak!” Jeritan Naomi berhasil mengalihkan perhatianku. “Serangan para Penyihir!”

“APA?” Kali ini suara Savanna meninggi, membuatnya menoleh ke bawah dan melihat pantulan sinar dari ujung tongkat para penyihir jauh di sana. “Sialan!”

Dan entah apa yang ia pikirkan setelahnya, ia melompat turun dari kereta tanpa sedikitpun alat pengaman maupun sihir yang melindunginya.

To be continue

Maaf terlalu singkat padahal udah ngilang berapa minggu :" tadi pas ngelanjutin aku ngerasa aku butuh baca2 ulang lagi ini cerita karena sifat Dixon sama Savanna mendadak berubah di pandangan aku. Maafin ea :"

Dont forget to vomment and thanks for reading~💕

Bạn đang đọc truyện trên: TruyenTop.Vip