11 - Di Antara Jika Dan Maka

Zara tidak pernah menyangka kalau pelajaran bahasa inggris kali ini jadi sangat membosankan. Semenjak gurunya diganti, Zara jadi semakin malas untuk berada di kelas selama pelajaran bahasa inggris. Sebelumnya tidak semembosankan ini.

"Hih, udah pernah belajar ini. Kenapa harus ngerjain soal yang sama dua kali? Waste of time."

Zara mengumpat dengan suara pelan. Dewa mengacak rambut Zara ketika mendengar suara halus milik Zara yang hampir tidak terdengar itu. Matanya masih menuju pada papan tulis di depan kelas. Guru mereka, yang baru saja mengajar dua hari yang lalu ini sangat membosankan.

Seketika wajah Zara menjadi merah padam. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan teriakan lolos dari bibirnya. Alhasil, gadis itu memilih untuk menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangan miliknya. Salahkan perlakuan Dewa dan suara tawanya yang seolah menjadi candu bagi Zara.

Namun rupanya hal itu bukanlah hal yang baik. Intinya, hari ini bukan hari yang baik bagi seorang Anzara Kaila Lavina.

Kepala Dewa bergerak bergantian memandangi guru di depan kelasnya dan gadis di sebelahnya saat ini. Ketika matanya menangkap Zara dan bagaimana posisi gadis itu, dengan refleks Dewa menggoyangkan tubuh Zara pelan. "Seriously Zara, wake up! Ms.Kayla ngeliatin lo dari tadi."

Memang, kepala Zara sejak tadi sudah menempel di atas meja, bahkan ketika Ms.Kayla berkata "lets pray before we start the lesson, please", Zara masih setia dengan mejanya. Ia bahkan tidak menulis satu pun huruf di buku tulisnya.

"Bosen sumpah De." Zara bergumam pelan. Namun dapat terdengar oleh dua puluh lima pasang telinga di kelas ini, faktornya adalah kelas ini sedang dalam keadaan sangat sepi.

Zara tidak peduli. Dirinya hanya ingin keluar dari kandang singa ini. Bahkan ia masih belum juga menampakkan wajahnya sehingga orang yang melihatmya akan berspekulasi bahwa dirinya tertidur. Termasuk teman sekelasnya. Dan gurunya.

Sampai suara gebrakan meja membuat Zara terlonjak kaget. Kacamata bulat yang bertengger di hidungnya kini bergerak sedikit, tampak sedikit miring.

Hal itu tentunya mengundang gelak tawa teman sekelasnya. Huh Zara benci menjadi badut kelas.

Tidak, bukan berarti terjadi pembully-an dan Zara menjadi korbannya, hanya saja Zara memang seolah adalah badut kelas yang hanya akan diam ketika orang-rang berkata, "Kecil banget sih lo Ra." Atau, "Ra, butuh high heels buat ambil buku di loker lo?"

Sialnya, loker Zara memang cukup tinggi. Karena namanya yang diawali dengan huruf A maka sudah jelas ia akan mendapatkan absen awal. Dan loker yang berada di bagian atas. Seharusnya wali kelas mereka menentukan loker berdasarkan tinggi badan, begitu menurut Zara. Tapi itu adalah suatu hal yang tidak mungkin dan selalu Zara semogakan. Yah, semoga saja wali kelas beserta seperangkat teman sekelasnya mengerti bagaimana kecilnya tubuh Zara dan bagaimana tingginya loker yang ada di paling atas.

Bicara soal tubuh kecil dan pendek, Ms.Kayla yang terbilang memiliki tubuh kecil juga itu kini tengah menatap datar Zara. Sebelumnya ia menangkap basah Zara yang sedang santai-santai dan tidak mengerjakan tugasnya itu. Seperti menahan emosi, karena Zara hanya terdiam dengan tatapan polos dan tanpa dosa, meskipun dirinya sangat berdosa atas kelakuannya kepada guru baru ini.

Ms.Kayla menghela napasnya, Dewa sudah membatu di sebelah Zara. Sedangkan gadis itu masih saja terdiam dan ekspresinya seolah bertanya, "Apa salah gue?"

"Keluar kelas saya. Sekarang."

Zara terdiam. Butuh beberapa waktu sampai akhirnya kedua sisi bibir Zara terangkat, tipis dan tidak begitu terlihat. Namun Ryan yang memerhatikan di belakangnya sangat tahu apa yang ada dalam otak Zara.

Dan dengan tenang Zara keluar kelas, tentunya dengan senyum mengembang di wajahnya. Lalu kaki kecilnya itu melangkah menjauhi kelasnya. Bosan, dan tidak ada gunanya berdiam diri di depan kelas. Dan siapa lagi kalau bukan Ryan yang dengan mudahnya bisa keluar kelas menggunakan embel-embel izin ke toilet padahal dirinya tengah menyusul Zara ke kantin sekolah.

***

Yang paling menyenangkan di hari Kamis adalah pelajaran Bimbingan Konseling. Sesi curhat lebih tepatnya. Tidak perlu susah payah memikirkan rumus apa yang harus dipakai untuk memecahkan satu soal, atau grammar apa yang tepat untuk melengkapi sebuah kalimat, dan tidak perlu memutar balik otak agar bisa menghafal materi yang akan dipresentasikan.

Zara berjalan menuju kelasnya, di sebelah kirinya Ryan mengikuti dengan langkah yang sama. Hukuman keluar kelas dari gurunya itu sangat menguntungkan bagi Zara.

Setelah kakinya menapak pada ambang pintu ruang kelasnya, mata Zara dapat menangkap sesosok laki-laki yang tengah sibuk dengan dunianya sendiri. Membaca sebuah buku sedangkan murid lainnya sibuk berbincang, tertawa, dan berlalu-lalang sana sini.

Sudah pasti itu Dewa. Dengan semangat Zara berjalan ke arah Dewa, menempatkan dirinya di sebelah laki-laki itu dan menepuk punggung Dewa cukup keras. Senyuman lima jari sudah terpampang jelas di wajah Zara.

Dewa hampir menjatuhkan bukunya kalau ia tidak segera menangkapnya. Yang Dewa tidak pernah bisa tebak adalah, Zara yang seketika bisa bersikap canggung terhadapnya, Zara yang manja dan banyak bicara seperti yang ia kenal, atau Zara dengan merah di pipinya dan tertunduk malu karena salah tingkah. 

Mengapa gadis itu bisa dengan mudahnya mengobrak-abrik hidupnya, masuk ke dalam lingkarannya dan menariknya keluar. Zara membawa Dewa keluar dari batas amannya. 

Oh betapa berharapnya Dewa bahwa semua keadaan bisa seperti dulu lagi. Zara yang tidak pernah sekali pun merasa canggung dengan keadaan di antara mereka, contohnya. Atau jangan-jangan hanya Dewa yang merasakannya?

"Dewa, lo kenapa?"

Dewa tetap bergeming. Matanya malah terfokus pada Ryan yang tengah duduk di hadapannya dengan bangku yang diputar berlawanan arah. Pikirannya terus berkata, "Ryan sedang memerhatikannya."

"Bu Rena dateng woy! Beresin kursi!"

Suara teriakan sang ketua kelas membuyarkan lamunan Dewa. Ryan bergerak menjauh dari hadapannya, begitupun Zara dan teman sekelas lainnya. Menggeser meja dan kursi, mengosongkan tengah-tengah ruangan kelas dengan menempatkan meja dan kursi itu di sisi kelas. Dua baris kursi saling berhadapan, mereka semua sudah tau apa yang akan dilakukan saat ini. Jika dan Maka, permainan yang selalu menjadi favorit Zara.

Gadis itu menempatkan dirinya pada barisan di sebelah kanan, tepat di sebelahnya Ryan tengah sibuk merobek kertas dari bagian tengah bukunya. Dan Dewa, sudah pasti berada di hadapan Zara. Dewa yakin, Ryan sangat membenci pelajaran ini, seperti anak TK katanya. Kalau bukan permainan, sudah pasti ceramah panjang lebar dari sang guru. Lain hal dengan Zara yang selalu semangat, apalagi kali ini pasangan bermainnya adalah Dewa.

Seolah seluruh anak sudah mengerti tata cara permainannya, mereka memegang sebuah kertas dan pulpen. Bu Rena menginstruksikan untuk memulainya, hitungan ketiga dan Dewa sudah menulis sebuah kalimat pada kertasnya yang diawali dengan kata "maka".

Hanya lima detik. Dari barisan paling depan, mereka mengucapkan kalimat yang diawali dengan jika dan disambung dengan maka. Banyak kalimat-kalimat aneh yang tercipta, membuat suasana kelas riuh seketika. Bahkan seorang Ryan pun ikut tertawa.

Kini giliran Ryan membacakan kalimatnya. Dengan wajah datarnya ia berkata, "Jika aku terjatuh." 

Lalu di hadapannya, Rio yang menjadi lawan mainnya sata ini mengucapkan kalimat yang membuat seluruh kelas tertawa. "Maka aku akan menendangmu," kata Rio seraya tertawa terbahak-bahak. 

"Sumpah Yo, sadis banget gue ditendang." Tawa Ryan pecah seketika. Zara ikut tertawa karena kalimat Ryan dan Rio yang begitu serasi namun terdengar meneydihkan. Hal itu membuat Dewa tertawa pelan. Bukan, bukan karena kalimat Ryan. Melainkan tawa Zara yang begitu nyata di hadapan Dewa. Entah mengapa fokus Dewa hari ini seolah berpusat hanya pada Zara.

Sampai Zara mulai membuka suaranya, memecah keheningan sejenak pada otak Dewa. Membuyarkan lamunannya tentang Zara. "Jika aku masih menunggumu." Suara Zara terdengar pelan, namun jelas ditangkap oleh Dewa.

Dewa bergeming. Ia terus memerhatikan kalimat yang ia tulis. Sedikit penyesalan tercipta dalam hatinya, setelah ia berucap. "Maka kau harus tau bahwa aku masih merasakan yang sama."

Benar sesuai perkiraannya. Suasana riuh kelas ini semakin menjadi, dua kali lipat lebih keras dari sebelumnya. Zara terdiam tidak percaya. Bu Rena benar, permainan ini benar-benar menguji apa yang mereka rasakan pada lawan mainnya. Mungkinkah masih ada setitik harapan bagi Zara? Begitu yang selalu terputar di otak gadis itu. 

Dewa mengesampingkan semua sautan teman sekelasnya. Zara masih tertunduk salah tingkah dan ia memerhatikan gadis itu saat ini. Masihkah ada kesempatan baginya untuk mengulang semuanya? Begitu yang Dewa pikirkan terus menerus. 

"Cie Dewa...."

"Cie Zara...."

"New couple nih."

"Bisa pas gitu ya."

"Jodoh anjir itu namanya."

Lain hal dengan Ryan, sahutan-sahutan seperti itu semakin membuatnya dongkol. Namun bukan Ryan namanya kalau tidak bisa menutup perasaannya dalam-dalam. 

Bukan Dewa pula kalau ia tidak dapat melihat apa yang Ryan rasakan.   

Dan Dewa benci mengetahui bahwa, Ryan menatap Zara begitu tulus. 

Jika saja sebelumnya Dewa tidak pergi. Maka bisa saja hubungan mereka tidak jadi serumit ini.    

Bạn đang đọc truyện trên: TruyenTop.Vip